Dzikrullah

Dzikrullah 
Membeningkan Hati, Menghampiri Ilahi

Karena itulah ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Kalbu (Qalb) setiap manusia pada dasarnya jernih, bening, dan bercahaya. Di dalamnya ada seberkas cahaya (nur) yang bersumber dari cahaya Allah. Oleh sebab itu, setiap manusia memiliki nurani, sesuatu yang bersifat cahaya, jernih dan bening. Al-Ghazali melukiskan bahwa nurani seseorang itu seperti sebuah kaca yang bening; namun kebeningan kaca itu tercemari oleh noda-noda hitam yang digoreskannya setiap hari. Sebab setiap kita berbuat maksiat, berarti kita menorehkan noda hitam pada kaca yang bening itu. Jika tidak pernah dibersihkan, maka noda hitam itu lama-kelamaan menjadi keras membeku seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Maka, cahaya Allah tidak dapat ditangkap oleh nurani yang terhalang oleh noda-noda yang membeku.
Tasawuf mengupas tata cara menyucikan hati, mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat-dekatnya, dan merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan sehari-hari guna mewujudkan integritas moral yang tinggi pada pribadi seorang muslim. Kini, tasawuf menjadi fenomena masyarakat modern; bahkan menjadi bagian dari kebutuhan hidup. Masyarakat modern mencari tasawuf untuk melengkapi belahan kehidupannya yang hilang, yakni nilai-nilai spiritualitas. Sayyed Hossein Nasr memandang manusia modern mengalami dekadensi humanistik karena mereka telah kehilangan pengetahuan langsung mengenai dirinya. Pengetahuan ini bersifat dangkal, karena diperoleh dari pinggir lingkaran eksistensi manusia; yakni kesadaran tentang ketuhanan dan merasakan kehadiran-Nya dalam kehidupan. Manusia modern bagaikan berkas-berkas cahaya yang tenggelam dan gelap, tidak sanggup menghubungkan dirinya dengan sumber cahaya, Allah SWT.

Dzikir adalah upaya menghubungkan diri secara langsung dengan Allah, baik dengan lisan maupun dengan kalbu atau dengan memadukan keduanya secara simponi. Dzikir merupakan salah satu Tarekat (Thariqah), yaitu jalan, metode, atau cara yang dilakukan para sufi guna menyucikan jiwa, mendekatkan diri kepada Allah, dan merasakan kehadiran-Nya. Menurut ajaran Al-Qur'an, hakikat manusia adalah makhluk yang merindukan kehadiran Allah SWT. sebagai sumber kebaikan dan kebenaran. Inilah konsep fitrah dalam Islam. Manusia memiliki dimensi rohaniah yang datang dari Allah SWT. sehingga secara otomatis ia akan selalu rindu kembali kepada-Nya. Alqur'an menegaskan. "Maka apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan ke dalamnya roh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud." (Q.S.Al-Hijr [15]: 29)
Sesuai dengan konsep kaum sufi, manusia dikenal memiliki dua dimensi. Pertama tersebut unsur labut, yakni potensi Ilahiah, yang selalu mendorong dirinya untuk merindukan kembali dan mencintai kebenaran. Yang kedua adalah unsur nasut, sebagai makhluk bumi, yang memiliki kelemahan-kelemahan, dan memiliki dorongan-dorongan nafsu sehingga, pada saat tertentu, ia mudah jatuh terperosok ke dalam kemerosotan moral dan spiritual (spiritual bankrupty). Buah zikir adalah tertanamnya nilai Ketuhanan secara kukuh dalam kalbu yang memancarkan kesadaran tentang nilai kemanusiaan. Zikir berarti mencintai Tuhan; sedangkan mencintai Tuhan secara benar ditandai dengan mengimbasnya cinta itu pada MakhlukNya. Sebaliknya, orang yang mencurahkan cinta kepada makhluk Tuhan tidak akan mengimbas kepada cinta Tuhan. Sebab, mencintai yang sejajar atau lebih rendah dari manusia terlampau berat untuk mengimbaskan cinta kepada yang lebih tinggi, Allah SWT. Manusia modern banyak yang tertipu dengan mencurahkan energi cintanya kepada benda dan sesama makhluk sehingga tidak mengimbaskan cinta kepada Tuhan.

Al-Qur'an menggambarkan bahwa kalimah thayyibah atau ungkapan zikir itu harus tertanam secara kukuh dalam kalbu seperti sebatang pohon yang akarnya terhujam ke dalam perut bumi. Cabang, ranting, dan dedaunannya menjulang ke langit nan tinggi, sedangkan buahnya dapat dipetik setiap saat (Q.S. Ibrahim [14]:24). Ayat ini menggambarkan bahwa Dzikir kepada Allah harus berintegrasi ke dalam kesadaran kita secara mendalam dan menjiwai seluruh perilaku kita, serta bermuara pada moralitas yang tinggi (Al-Akhlak al-karimah). Sedangkan orang yang tidak merasakan kehadiran Tuhan dan hidupnya tidak berorientasi kepada kesadaran tentang nilai-nilai ketuhanan (Rabbaniyyah) dilukiskan oleh Al-Qur'an sebagi pohon yang terbalik yang tercabut dari akarnya sehingga tidak memiliki pegangan yang kukuh dalam kehidupannya (Q.S. Ibrahim [14]: 27).

Profil manusia yang tercabut akarnya adalah manusia yang mengalami dekadensi, karena mereka telah kehilangan pengetahuan dan kesadaran langsung mengenai diri dan keakuannya. Bentangan hidupnya menjadi pendek, hanya berorientasi kepada persoalan kini dan si nafsaniyah dan rubaniah-nya dibiarkan dalam kehampaan dan kenestapaan. Kesadaran terdalamnya, Pertama, dan di bawah perut dengan menghalalkan segala cara (nafs al-ammarah). Kedua, dalam keraguan, konflik, dan ketegangan antara orientasi dan dorongan kepada materi dan kesadaran ketuhanan (nafs al-lawwamah), sehingga hidupnya tidak merasakan kedamaian (nafs muthma'innah).
Allah SWT. Berfirman, "(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tentram. "(Q.S. Al-Ra'ad [13]: 28). Dalam ayat ini disebutkan bahwa cara memperoleh ketentraman hati adalah dengan berdzikir kepada Allah. Tetapi, tidak semua zikir menentramkan hati. Karena itu, syarat dzikir yang dapat menentramkan hati adalah dzikir orang yang beriman. Orang yang tidak beriman tidak bisa tentram dengan dzikir. Sebaliknya, orang yang beriman tidak akan tentram hatinya kecuali dengan dzikir kepada Allah.
Karena itu, kalau Anda beriman, jangan mencari , ketentraman pada kekayaan, kemasyuran atau hal-hal duniawi lainnya. Ketentraman hanya diperoleh dengan dzikir kepada Allah. Ketentraman ada kaitannya dengan keimanan, seperti dijelaskan dalam Alqur'an. "Dialah yang telah menurunkan ketentraman ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)..." (Q.S. Al-Fath[48]: 4). Allah menurunkan kententraman kepada hati orang yang beriman!.
Semoga Allah Mengajarkan kepada Kita Dzikir yang benar. Ammiin.